TOPIK PENELITIAN YANG MENARIK UNTUK DIBAHAS
Ketimpangan ekonomi adalah perbedaan pembangunan ekonomi antar suatu wilayah dengan wilayah lainnya secara vertikal dan horizontal yang menyebabkan disparitas atau ketidak pemerataan pembangunan. Salah satu indikator standard ketimpangan ekonomi adalah koefisien Gini. Nilainya antara 0 dan 1, semakin mendekati 1 semakin timpang dan sebaliknya. Ketimpangan ekonomi ini sangat erat kaitannya dengan kemiskinan sehingga apabila dikaitkan akan memberikan penjelasan mengapa bisa terjadi ketimpangan tersebut. Kemiskinan relatif bisa dikatakan kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Dalam pembangunan ekonomi, semakin rendahnya ketimpangan di suatu wilayah maka semakin merata distribusi pendapatannya. Ini menjadikannya agenda yang penting bagi kebijakan tersebut.
Berdasarkan data dari BPS gini ratio Indonesia menyentuh angka 0,381 pada Maret 2020. Bisa dikatakan Indonesia tetap menjadi negara yang ketimpangannya cukup tinggi. Mengapa bisa terjadi hal demikian? Hal ini lah yang menjadikannya cukup menarik untuk dikaji karena adanya suatu alasan yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Apakah mungkin gini ratio dapat keliru dalam mengkalkulasikan angka ketimpangan ekonomi Indonesia? Apakah dari perhitungan tersebut dapat mewakilkan ketimpangan di Indonesia? Bisa jadi angka tersebut bukanlah angka sebenarnya, lalu apa penyebabnya jika gini ratio tersebut tidak dapat mempresentasikan ketimpangan yang sebenarnya?
Tingkat ketimpangan di Indonesia, bisa jadi, jauh lebih besar daripada
yang terukur dengan menggunakan indikator-indikator standar selama ini.
Hal ini mempunyai implikasi yang besar, misalnya bisa saja menjelaskan
semakin maraknya berbagai kerusuhan dan ketegangan sosial di berbagai
daerah di Indonesia. Namun, yang pasti, sepertinya Indonesia tidak layak
disejajarkan dengan negara-negara paling merata sedunia.
Comments
Post a Comment