Gambaran Kemiskinan Kota Batam

 

 

        Salah satu tujuan dari SDGs adalah menghilangkan kemiskinan di dunia yang sifatnya menyeluruh. Dalam hal ini tentunya tiap negara memiliki peranan penting dalam mengatasi permasalahan kemiskinan. Indonesia pun sampai kini tengah memulai rencana pemberantasan kemiskinan di seluruh wilayahnya. Indonesia memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi baik di pedesaan maupun di perkotaan. Kemiskinan yang ada di pedesaan disebabkan oleh keterbatasan lapangan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, maupun pasar. Sedangkan di perkotaan masalah ini cukup kompleks yang menyertakan masalah sosial seperti keturunan sosial, kerentanan terhadap kriminalitas, kekerasan, dll.

       Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan. Jumlah penduduk miskin di Batam mengalami tren naik dan turun (fluktuasi). Pada tahun 2017 penduduk miskin sebanyak 61,16 ribu jiwa, kemudian naik menjadi 67,41 ribu jiwa pada tahun 2018. Pada tahun 2019 mengalami penurunan menjadi 66,21 ribu jiwa dan mengalami kenaikan kembali pada tahun 2020 menjadi 67,06 ribu jiwa. Dengan ini Batam menjadi penyumbang angka kemiskinan tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau. Mengapa bisa? Ini disebabkan oleh banyaknya pendatang dari luar Batam yang menggantungkan hidupnya di kota ini. 

        Dengan bertambahnya penduduk dari luar Batam disertai kurangnya kualitasi SDM yang diberikan menambah masalah kemiskinan bagi kota Batam. Persaingan kerja di Kota Batam terus mengalami peningkatan seiring dengan minimnya lapangan pekerjaan membuat angka kemiskinan tidak turun. Sudah berbagai macam upaya bahkan membuat suatu program yang mampu menurunkan angka kemiskinan, namun hasil yang didapat tidak signifikan atau sesuai yang diekspektasikan. Salah satu program tersebut adalah penyaluran sembako murah dua kali dalam setahun untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhannya terutama saat hari besar keagamaan. Akan tetapi hasilnya pun tidak signifikan bahkan angka kemiskinan malah bertambah.

        Strategi pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan masih melihat pada satu aspek, yaitu aspek ekonomi. Strategi ini akan terus mengalami kegagalan karena ini tidak mewakili permasalahan kemiskinan yang terjadi di Kota Batam saat ini. Padahal penyebab angka kemiskinan di Kota Batam tidak hanya dari pendapatan rumah tangga, tetapi juga dari berbagai aspek, termasuk terbatasnya lapangan pekerjaan dan membludaknya pendatang dari daerah lain. Oleh karena itu diperlukan strategi khusus ataupun kebijakan yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini dan harus memiliki dampak yang signifikan dari impelemntasi strategi maupun kebijakan tersebut.

        

sumber: BPS Provinsi Kepulauan Riau

Comments